Menerapkan Prokes Tanpa Stres

Hai, Sahabat Nafanifa… apa kabarnya… semoga sehat semua ya… Miris sekali saat membaca berita duka cita di grup-grup obrolan. Covid-19 pelan-pelan telah merenggut orang-orang terdekat teman-teman.

Bahkan di keluarga besar kami pun kakak sekeluarga yang terdiri dari 6 orang dalam satu keluarga, sempat dirawat di RS karena ada gangguan pernafasan akibat virus menular ini. Lalu ada pula cerita seorang kolega yang setelah terkena Covid-19 ia pun bisa positif kembali.

Ternyata infeksi tak mengubah susunan sel-sel tubuh sebagaimana yang dinyatakan beberapa ahli. Bahwa orang yang berhasil sembuh dari Coronavirus, akan kebal dan kemungkinan besar tidak akan tertular kembali.

Apa yang bisa kita lakukan untuk tidak terinfeksi Covid-19 kembali? Anggaplah kamu sudah kena Covid-19, maka jawabannya adalah lebih disiplin lagi menerapkan protokol kesehatan. Mau tidak mau harus ketat menjaga diri dan keluarga. Namun jangan sampai merasa stres ya. Berikut ulasan menerapkan protokol kesehatan tanpa stres.

Prokes 5 M

Protokol kesehatan atau jamak disingkat prokes dulunya hanya 3 aktivitas yang familier disebut 3M:

  1. Mencuci tangan
  2. Memakai masker
  3. Menjaga jarak

Mengingat masih masifnya perkembangan Covid-19 di tahun kedua pandemi ini, maka prokes 3 M pun ditingkatkan menjadi prokeds 5 M, yaitu dengan menambahkan 2 protokol lagi:

4. Menghindari kerumunan, jika kegiatan yang akan kamu datangi ternyata malah menciptakan kerumunan orang-orang, maka sikap bijak yang harus diambil adalah memilih untuk tidak pergi atau cari tempat yang lainnya.

5. Mengurangi mobilitas, jika hal yang akan dilakukan tidak penting-penting amat, lebih cerdas jika tetap berada di rumah saja. Dengan stay at home insyaallah kamu bakal lebih sehat karena terhindar dari kemungkinan paparan Covid-19.

Menerapkan Prokes Tanpa Stres

Apakah orang bisa stres dalam menerapkan prokes? Ya, tentu saja bisa. Seperti yang disampaikan kakak saya yang kepala puskesmas di suatu kecamatan. Ketika ada orang yang berkunjung ke puskesmas tanpa masker lalu diminta memakai masker dulu lantas cuci tangan di wastafel yang disediakan, orang tersebut malah marah-marah dan ingin meninju staf medis pria yang berpakaian APD (Alat Pelindung Diri).

Kenapa saya sebut orang tersebut stres? Usut punya usut ternyata ia kecewa dengan anjuran staf puskesmas beberapa bulan sebelumnya yang mengharuskan semua masyarakat disiplin memakai masker dan mencuci tangan. Ia turut menerapkannya pula, akunya.

Namun tetap juga terpapar Covid-19, hal ini diketahui dari hasil SWAB PCR nya yang positif. Padahal ia tidak merasakan apapun dan sehat-sehat saja tak ada keluhan. Karena dinyatakan OTG maka pihak medis meminta untuk melakukan isolasi mandiri, karena meski dia sendiri tidak ada apa-apa, dikhawatirkan anggota keluarga yang lain terlebih yang memiliki penyakit penyerta (komorbid), terancam kesehatannya.

Menerapkan prokes mestinya dilakukan dengan senang hati. Karena inilah jalan untuk selalu menjadi sehat. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak harusnya sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari di era kebiasaan baru ini (new normal).

Apa yang saya lakukan dalam menerapkan prokes tanpa stres?

  1. Menerima dengan lapang dada bahwa tak ada acara keluar tanpa pakai masker. Sudah menjadi bagian dari outfit keseharian, kalau keluar rumah meski hanya ke warung tetangga, wajib menggunakan masker. Rasanya kurang lengkap melangkan keluar rumah tanpa adanya penutup hidung dan mulut ini. Apalagi muncul info terbaru mengenai mutasi virus Corona menjadi beragam varian seperti varian Delta. Bisa menembus masker pula! Belum lagi habis rasa takjub dengan mampunya si Corona varian baru ini membobol benteng pertahanan masker, sudah muncul pula varian Delta Plus. Kabarnya bisa menembus masker 2 lapis. Subhanallah…
  2. Tidak malas mencuci tangan kalau pulang dari mana-mana atau saat akan menyentuh wajah, terutama hidung dan mulut. Hal ini harus ditaati jika tak ingin terbebas dari ruang isolasi, ventilator, positif, isolasi mandiri, atau apapun namanya yang menandakan bahwa kamu terpapar Covid-19. Lagipula dengan membiasakan selalu mencuci tangan, selain menjaga kebersihan tangan dan yang dipegang, juga jadi harum kan tangannnya. Oya, di dalam tas, di mobil, di sepeda motor, di banyak tempat di dalam rumah kami, selalu tersedia hand sanitizer sebagai pengganti sabun cuci dan air jika perlu cepat membersihkan tangan.
  3. Jangan segan menjauh dari tetangga, wah ini saya terapkan bukan berarti saya sombong ya, tetapi untuk menjaga nalar tetap sehat dalam menerapkan prokes. Banyak orang mendengung-dengungkan prokes namun saat berinteraksi dengan tetangga malah tidak jaga jarak saja. Apalagi ibu-ibu yang sedang belanja di warung tetangga tuh, tidak sadar malah bahu kiri dan kanannya bersinggungan dengan bahu tetangganya saat memilih-milih sayuran. Pengalaman saya, langsung meminta diri atau mengambil jarak agar tidak berdempetan dengan tetangga tersebut. Kita tidak tahu dia sudah kontak erat dengan siapa saja sebelumnya, bukan.
  4. Tidak pergi ke tempat yang berpotensi membuat kerumunan.
  5. Memilih untuk berdiam di rumah sambil mengerjakan pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah saja.

Kendati demikian saya tetap berempati kepada saudara-saudara kita yang di luar sana, harus keluar rumah juga menjajakan dagangan kaki limanya. Sebab jika tidak keluar maka tidak ada pemasukan keuangan keluarga. Semoga pandemi ini cepat berlalu dan semuanya bisa kembali seperti sedia kala dan bisa jadi lebih baik lagi. Amin.

Kesimpulan

Menerapkan prokes tanpa stres tentu bisa saya dan kamu lakukan. Dengan menaati protokol mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Meyakini bahwa menjalan prokes dengan keikhlasan hati demi kesehatan diri dan keluarga adalah solusi untuk tidak merasa tertekan dengan kondisi sekarang ini.

Salam sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *